Profil Keluaran Radiasi: Fitur penting dalam estimasi dosis pasien radiologi

Wednesday, 21 March 2018

Seiring dengan diluncurkan fitur baru untuk audit dan rekam dosis pasien pada modalitas radiografi umum, pada Akhir 2017 lalu, muncul pula parameter baru yaitu “data keluaran radiasi”.

Keluaran radiasi sinar-X adalah besarnya nilai paparan radiasi (X) atau kerma udara (K) pada berkas utama sinar -X yang diukur di udara bebas pada jarak tertentu (umumnya 100 cm dari titik fokus) tanpa kontribusi hamburan balik. Pada terminologi internasional, disebut dengan Incident Air Kerma (INAK). 

Nilai keluaran radiasi pada pesawat sinar-X radiografi dipengaruhi oleh:

a. Tegangan tabung (kVp)
b. Kuat arus (mA)
c. Lamanya waktu penyinaran/eksposi (s)
d. Jarak antara titik fokus dengan obyek pengamatan / titik pengukuran (FSD).
e. Filtrasi Total, jumlah filter inheren dengan filter tambahan (mmAl)

 

Nilai keluaran radiasi diperoleh dari pengukuran langsung pada pesawat sinar-X, sehingga nilai tersebut hanya dapat diperoleh saat kalibrasi atau pengujian (dalam hal ini: uji kesesuaian).

Pada Uji Kesesuaian, data keluaran radiasi diperoleh dari hasil uji akurasi tegangan tabung (kVp), sehingga perlu dipastikan saat tester atau penguji berkualifikasi melakukan uji akurasi tegangan tabung, PPR atau pun fisikawan medik yang mendampingi untuk meminta data dosis yang diperoleh dari hasil variasi nilai kV. Berikut ini CONTOH data keluaran radiasi yang diperoleh dari hasil uji akurasi tegangan tabung (kVp) (Gambar 1):




Pada gambar 1, merupakan hasil uji akurasi tegangan tabung yang memuat informasi dosis keluaran radiasi, sedangkan gambar 2 adalah hasil uji tegangan tabung yang tidak memberikan informasi dosis keluaran radiasi.

Sesuai Peraturan BAPETEN No. 2 Tahun 2018 tentang Uji Kesesuaian Pesawat Sinar-X Radiologi Diagnostik dan Intervensional, rumah sakit sebagai pemohon uji kesesuaian harus diberi informasi data keluaran radiasi untuk tiap pesawat sinar-X yang di uji (seperti Gambar 1) dari laboratoriun uji kesesuaian. Jadi setelah berlakunya peraturan BAPETEN tersebut, rumah sakit harus meminta hasil keluaran radiasi (sebagaimana Gambar 1) ke laboratorium uji dan laboratorium uji berkewajiban memberikan data tersebut ke pemohon uji atau rumah sakit.

Pada Gambar 1 di atas terdapat informasi nilai kVp, mAs, jarak pengukuran (FSD), dan dosis terukur (mGy).

Dari data mentah hasil uji tegangan tabung pada Gambar 1 tersebut kemudian diolah untuk menjadi informasi keluaran radiasi sebagaimana gambar di bawah ini:


Pada Gambar 3 di atas diperoleh persamaan keluaran radiasi,  y=0.0127 x^1.9338, kemudian di substitusikan ke persamaan INAK:


(persamaan umum, a dan b adalah konstanta yang nilainya berbeda-beda untuk tiap pesawat sinar-X)

sehingga menjadi:

Persamaan tersebut sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa paparan radiasi pada sinar-X diagnostik itu proporsional dengan kuadrat dari nilai kV. Paparan radiasi ekuivalen dengan nilai kV2.

Untuk memperoleh nilai perkiraan dosis pasien (dalam hal ini Entrance Skin Dose, ESD atau Entrance Skin Air Kerma, ESAK) maka persamaan di atas dikalikan dengan faktor hamburan balik (backscatter factor, BSF).

(persamaan umum)

sehingga menjadi:


Dengan FSD = jarak titik fokus ke kulit pasien (cm).

Perhitungan dan Persamaan di atas adalah salah satu contoh untuk satu pesawat sinar-X yang memiliki keluaran radiasi (radiation output) seperti Gambar 1 dan Gambar 3.

Penting untuk diperhatikan bahwa tiap pesawat sinar-X memiliki nilai pada Gambar 1 dan Gambar 3 yang berbeda-beda, kecuali persamaan umum.

Jika tiap pesawat sinar-X memiliki data keluaran radiasi maka akan dapat digunakan untuk menghitung besarnya perkiraan dosis yang diterima oleh pasien saat menjalani pemeriksaan dengan sinar-X tersebut.

Data keluaran radiasi merupakan tipikal dari setiap pesawat sinar-X, artinya setiap pesawat sinar-X memiliki data keluaran radiasi yang berbeda-beda dan tidak sama.

Pada aplikasi Si-INTAN, pengguna tidak perlu membuat persamaan tersebut, hanya input data kV, mA, s atau mAs, dan jarak FSD, maka akan secara otomatis keluar nilai INAK dan ESAK-nya.

Harapan dari informasi ini adalah pemegang izin memiliki dan menjalankan program dosimetri pasien :

  1. Membuat atau merevisi prosedur operasional standar (SOP) terkait identifikasi dosis radiasi pasien;
  2. Menyediakan informasi data dosis pasien dari pengukuran langsung / perhitungan / indikator dosis yang ada di modalitas;
  3. Menyediakan informasi keluaran radiasi untuk tiap modalitas sinar-X;
  4. Merevisi atau memperbaiki logbook penyinaran tiap pasien. Jika logbook pasien hanya memuat informasi jenis pemeriksaan, umur pasien, jenis kelamin, kV, mA/mAs, dan s, maka perlu menambahkan informasi berat badan pasien dan jarak pasien dengan sumber sinar-X;
  5. ada perekaman data dosis pasien untuk tiap jenis penyinaran, paling tidak dalam bentuk jumlah sampel tertentu sesuai dengan beban kerja (untuk perkiraan nilai DRL) dengan memanfaatkan aplikasi Si-INTAN;
  6. tersedia peralatan kendali mutu untuk tiap modalitas (jika mampu) terutama yang memberikan dosis tinggi pada pasien. Kalau belum mampu, paling tidak tersedia informasi grafik keluaran radiasi dan faktor eksposi, jarak penyinaran yang ditempatkan di dekat panel kontrol modalitas.

 

Demikian semoga bermanfaat.