METODE PENENTUAN PERKIRAAN DOSIS PASIEN

Thursday, 01 September 2016

Metode penentuan perkiraan dosis pasien.
Pertama, sebagai implementasi dari pendekatan bertingkat, diantara kelompok modalitas radiasi pengion maka dipilih sebagai prioritas adalah modalitas yang memiliki:
a.    Potensi memberikan dosis yang tinggi ke pasien, dan
b.    Fitur indikator dosis yang melekat pada modalitasnya.

Sesuai dengan persyaratan pada paragraf di atas, maka nilai DRL dapat ditentukan mulai dengan modalitas:
a.    CT Scan;
b.    Fluoroskopi konvensional dan intervensional;
c.    Mamografi;
d.    Radiografi umum/mobile; dan
e.    Radiografi gigi.

Selain modalitas di atas, potensi memberikan dosis tinggi juga ada pada prosedur kedokteran nuklir diagnostik. Sehingga prosedur kedokteran nuklir diagnostik juga harus dilakukan optimisasi proteksi dan keselamatan radiasi dengan DRL.

Jenis fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki modalitas radiasi pengion yang dapat berpartisipasi dalam pelaksanaan pemantauan dosis ini yaitu:
a.    Rumah sakit publik atau pemerintah
b.    Rumah sakit privat atau swasta
c.    Klinik / puskesmas

Dalam rangka memperoleh identifikasi besarnya dosis yang diterima oleh pasien, maka pasien radiologi diagnostik dan intervensional dikelompokkan menjadi 3 kategori berdasarkan umur, yaitu:
a.    Bayi (0 – 4 tahun)
b.    Anak – anak (5 – 14 tahun)
c.    Dewasa (15 tahun ke atas)
Informasi identifikasi pasien yang dibutuhkan selain kelompok umur adalah jenis kelamin dan berat badan.

Setiap jenis pemeriksaan dibutuhkan data minimal sebanyak 10 pasien untuk tiap kelompok umur (wajib untuk dewasa, dan bayi atau anak-anak jika dapat dilakukan), namun sangat diharapkan jika memadai dapat mengumpulkan sebanyak 20 data pasien pada setiap jenis pemeriksaan.

Jika pada fasilitas dapat diperkirakan beban kerja setiap modalitas, maka jumlah sampling pasien yang dibutuhkan adalah 30% dari beban kerja.

CT Scan:
a)    Perkiraan dosis pasien dapat diidentifikasi menggunakan CTDI dan DLP.
b)    Nilai CTDI dan DLP umumnya dapat diketahui pada layar monitor konsol CT Scan atau terintegrasi dengan sistem data DICOM setiap pasien seperti dose protocol report atau tergantung pabrikan.

Fluoroskopi konvensional dan intervensional:
a)    Perkiraan dosis pasien dapat diidentifikasi menggunakan DAP atau KAP.
b)    Selain itu, pada modalitas intervensional umumnya sudah dilengkapi dengan indikator dosis pada layar monitor konsol berupa laju kerma udara atau KAP atau peak skin dose. Indikator tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi perkiraan dosis pasien.

Mamografi:
a) Perkiraan dosis pasien dapat diidentifikasi menggunakan INAK yang diukur di atas permukaan mamae.
b) Pemeriksaan yang dapat diidentifikasi adalah mamografi pada Cranial-Caudal (CC) dan Mediolateral Oblique (MLO).
c) Catat bahan target dan filter yang digunakan.
d) Catat kVp yang digunakan.
e) Catat ketebalan kompresi mamae.
f) Catat mAs yang digunakan.
g) Ukur HVL (mmAl).
h) Ukur INAK atau laju keluaran radiasi (radiation output rate) tanpa fantom.
i) Kemudian dengan menggunakan data pada Tabel 5.2 dari NCRP 149 untuk mencari nilai konversi kerma ke Mean Glandular Dose (MGD) yaitu fg.
j) Dari nilai INAK kemudian dihitung nilai MGD menggunakan persamaan berikut:    MGD = f_g.INAK

Radiografi Umum:
a) Perkiraan dosis pasien dapat diidentifikasi menggunakan Thermoluminescent Dosimeters (TLD) untuk mendapatkan ESD atau dengan DAP atau KAP.
b) Selain itu, perkiraan dosis pasien juga dapat diperkirakan menggunakan data keluaran radiasi (radiation output) hasil pengujian tabung pesawat sinar-X dan faktor eksposi atau konsisi penyinaran seperti kV, mA/mAs, dan jarak pasien dengan fokus.
c) Jika menggunakan TLD, maka dibutuhkan minimal 2 (dua) buah TLD chips dalam 1 (titik) yang digunakan untuk pengukuran. Posisi pengukuran ditempelkan pada kulit pasien di tengah (center) dari luasan lapangan penyinaran pasien.
d) Evaluasi TLD chips:

    ESD_rerata= (TLD_1+TLD_2)/2

e) Jika menggunakan data keluaran radiasi hasil pengujian tabung pesawat sinar-X maka dibutuhkan data tambahan mengenai kV, mA/mAs, dan jarak pasien dengan fokus untuk tiap penyinaran pasien.
f) Bentuk data keluaran radiasi adalah dapat berupa tabel atau grafik seperti Gambar 1 berikut ini:


g) Data tambahan yang dibutuhkan adalah data kondisi penyinaran atau faktor eksposi dari setiap penyinaran yang dilakukan yaitu kV, mA/mAs, dan jarak pasien dengan fokus.
h) Misal: pemeriksaan thoraks PA dengan kondisi penyinaran 110 kV, 15 mAs, dan jarak pasien ke fokus 200 cm. dengan menggunakan data pada Gambar 1 maka diperoleh nilai kerma pada pemeriksaan tersebut adalah K = (2,2482 x 110 kV – 74,671) x 15 mAs x (100/200)^2 = 647,37 ?Gy. Nilai kerma tersebut dikalikan dengan faktor hamburan balik (BSF, back scattered factor) sekitar 1,35 sehingga menjadi ESD = K x BSF = 647,37 ?Gy x 1,35 = 873,94 ?Gy.

Radiografi Gigi:
a)    Perkiraan dosis pasien pada pemeriksaan intraoral dapat diidentifikasi menggunakan TLD untuk mendapatkan ESD.
b) Perkiraan dosis pasien pada pemeriksaan panoramik dapat diidentifikasi menggunakan DAP atau KAP.