PENGENALAN APLIKASI Si-INTAN VERSI 2.0 di SURABAYA

Monday, 20 March 2017

Pada Tanggal 6 Oktober 2016 dilaksanakan pengenalan aplikasi Si-INTAN versi 2.0 di kota Surabaya. Pada pengenalan kali ini disampaikan informasi mengenai diagnostic reference levels (DRL), sistem manajemen dosis radiasi untuk pasien pada pemeriksaan CT Scan dan fluoroskopi, dan penggunaan sistem aplikasi SI-INTAN 2.0. Beberapa informasi baru sebagai masukan untuk pengembangan aplikasi Si-INTAN ke depan juga diperoleh pada pertemuan ini.

Pada acara ini disampaikan kembali bahwa aplikasi Si-INTAN 2.0 dapat digunakan apabila modalitas sumber radiasi pengion yang dimiliki oleh rumah sakit sudah dilengkapi dengan indikator dosis radiasi. Yang dimaksud indikator dosis ini adalah pada software pengoperasian modalitas tersebut sudah dilengkapi dengan nilai-nilai:
a.    CTDI dan DLP untuk modalitas CT Scan, dan
b.    Dose Area Product (DAP) atau Kerma Area Product (KAP), laju kerma, atau kerma total pada modalitas fluoroskopi.

Nilai-nilai tersebut biasanya tertampil di monitor konsol saat pemilihan kondisi penyinaran atau protokol penyinaran (pre scan) atau setelah penyinaran dilakukan (post scan) untuk CT Scan dan untuk fluoroskopi akan tertampil di monitor konsol selama penyinaran dilangsungkan dan setelah pemeriksaan dilakukan. Nilai-nilai indikator dosis tersebut akan tersimpan pada data DICOM pasien setelah menjalani pemeriksaan sebagai bagian dari data pasien yang dikenal dengan patient dose report.

 

 

Aplikasi ini dapat digunakan sebagai salah satu tool untuk sistem manajemen dosis pasien dengan DRL sebagai indikatornya. Pihak rumah sakit harus memiliki program manajemen dosis radiasi untuk pasien.

Dengan aplikasi Si-INTAN, pengguna dapat membuat program untuk mengetahui sebaran dosis pasien dan nilai diagnostic reference levels (DRL) tiap periode. Periode yang dimaksud dapat dalam jangka waktu 1 atau 2 tahun sesuai dengan kemampuan sumber daya rumah sakit.Misal, dibuat program manajemen dosis untuk mengetahui sebaran data dosis pasien tiap tahun. Program yang dibuat adalah:
1.Program dimulai Bulan Januari dan ditutup Bulan Desember 2016.
2.Tiap bulan harus input data ke aplikasi Si-INTAN.
3.Data yang dimasukkan di aplikasi Si-INTAN tergantung banyaknya jenis pemeriksaan.
Contoh: untuk CT Scan Head tiap bulan ada lebih dari 250 pasien, CT Scan abdomen 50 pasien. Maka, data yang dimasukkan di aplikasi Si-INTAN tiap bulan untuk CT Head adalah 60 data dan untuk CT abdomen cukup 20 data.
4.Kalau tidak dapat diprediksi dari jumlah pasien, maka dibuat agenda tiap bulan memasukkan data 20 pasien pada jenis pemeriksaan yang sering terjadi.
5.Apabila ada pemeriksaan yang jarang terjadi, dapat dibuat sesuai keberadaannya.
Contoh: CT Scan Head untuk anak tiap bulan ada 2 pasien. Maka tiap bulan pula dapat dimasukkan data tersebut ke aplikasi Si-INTAN. Sehingga nanti dalam 1 tahun ada 24 data pasien CT Head untuk anak.
6.Mengidentifikasi jenis pemeriksaan, usia, jenis kelamin, dan berat badan pasien.
7.Pada Aplikasi SI-INTAN sudah difasilitasi input data satuan. Jika punya data 1 dapat diinput, jika punya banyak juga dapat diinput.
8.Strateginya, jika kita input data dalam aplikasi Si-INTAN maka jangan lupa tekan tombol "Lanjutkan Nanti". Jika kita tekan tombol itu artinya data yang telah kita masukkan akan tersimpan dan dapat dilanjutkan menambah data lagi nanti.
9.Namun apabila kita sudah merasa cukup, misal tiap bulan hanya input untuk tiap jenis pemeriksaan sebanyak 20 data, maka jika sudah tercapai 20 data kemudian kita klik "Submit Survey", artinya kita sudah selesai input data untuk jenis pemeriksaan tertentu dengan usia pasien tertentu dan jumlah data tertentu pada bulan tertentu.
10.Selanjutnya, jika dalam periode 1 tahun sudah tercapai, maka dapat dilihat hasilnya di menu Survey Report di aplikasi SI-INTAN. Jika tiap bulan kita input data maka tiap bulan kita dapat mengetahui sebaran datanya, dan apabila ingin dikompilasi dalam jangka waktu setahun maka data dapat diekspor kemudian digabung untuk jenis pemeriksaan dan kelompok umur yang sama, dicari sebaran distribusinya dan dapat ditentukan nilai DRL-nya.
11.Nilai DRL yang diperoleh dari hasil pemantauan dosis selama 1 tahun itu kemudian ditetapkan sebagai nilai DRL lokal untuk pemeriksaan dan kelompok usia tertentu pada bulan Januari 2017.
12.Setelah ditentukan nilai DRL Lokal untuk tiap jenis pemeriksaan maka dibuatkan suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa “RS X pada periode 2016 memiliki DRL Lokal sebagai berikut…” kemudian “DRL Lokal ini berlaku selama 1 tahun kedepan mulai Januari – Desember 2017”. Begitu seterusnya sehingga setiap tahun memiliki DRL lokal baru.
13.Selanjutnya, penerapan DRL setelah nilai DRL itu ditetapkan:
a) nilai DRL di tempel di dekat monitor konsol CT Scan. Setiap pemeriksaan pasien menggunakan protokol jenis pemeriksaan yang ada nilai DRL-nya maka diperhatikan patient dose report-nya. Apabila melebihi nilai DRL, maka lakukanlah pencatatan, identitas pasien, jenis pemeriksaan, dan lainnya. Kemudian jika sudah diketahui alasannya melebihi DRL, dapat dituliskan juga alasannya, misal:
-    ukuran pasien besar
-    membutuhkan kualitas citra yang bagus
-    jumlah fase atau seri penyinaran yang banyak
-    pengulangan karena citra kurang bagus
-    dan lainnya.
b) Pada beberapa CT Scan sudah difasilitasi menu Dose Notification atau Notification Value. Nilai DRL yang berupa CTDI atau DLP dimasukkan ke dalam kolom Dose Notification. Setiap akan melakukan penyinaran ataupun setelah melakukan penyinaran nilai CTDI/DLP prediksi atau CTDI/DLP hasil penyinaran akan dibandingkan dengan nilai DRL/DLP yang dimasukkan ke Dose Notification. Jika melebihi Dose Notification akan muncul dialog untuk menuliskan alasannya (Diagnostic reason) dalam rangka meminta konfirmasi.

Alur program di atas dapat dilakukan juga untuk manajemen dosis radiasi pada pasien dengan pemeriksaan fluoroskopi intervensional (cathlab angiografi, C-arm/U-arm).